DIGLOSIA DI DAERAH PERBATASAN

R. Hery Budhiono

Abstract


Penelitian ini mengkaji diglosia yang terjadi pada pemakaian kebahasaan pada masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah-Kalimantan Selatan, tepatnya di kota Kuala Kapuas, yang merupakan masyarakat multibahasa. Setidaknya ada tiga Bahasa besar di daerah tersebut, yaitu Bahasa Ngaju (BNg), Banjar (BBj), dan Indonesia (BIn). Konsekuensi menjadi anggota masyarakat multibahasa adalah adanya pilihan-pilihan bahasa. Tujuan penulisan ini ialah memerikan situasi kebahasaan dalam kerangka kediglosikan. Penelitian inimerupakan penelitian deskriptif-sinkronis dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengain menggunakan kuesioner untuk mengetahui pilihan bahasa responden. Responden berjumlah 65 orang dan terdiri atas berbagai kalangan dan rentang usia. Berdasarkan dari yang diperoleh, terdapat setidaknya dua situasi diglosik yang melibatkin tiga bahasa di daerah tersebut, yaitu BIn-BBj dan BBj-BNg. Situasi diglosik lain dan melibatkan bahasa-bahasa daerah non-Ngaju sangat mungkin terjadi. Situasi diglosik tersebut ternyata tidak stabil, bahkan dapat tiris. Bahasa Indonesia sebagai bahasa tinggi kadang-kadang dipakai dalam ranah informal yang merupakan wilayah bahasa rendah. Banjar justru dapat sesekali menerobos kemapanan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya. Hal tersebut merupakan bukti adanya ketirisan/perembesan. Pada situasi diglosik lainnya, bahasa_Banjar yang diposisikan sebagai bahasa tinggi bagi penutur bahasa Ngaju dapat pula dipakai dalam ranah informal.

 

The paper studied diglossia situation in Kuala Kapuas as multilingual community, area of Central Borneo and South Borneo boundary. There are at least three major languages, namely Ngaju Dayak (NgD), Banjarese Malay (BM) and Indonesia (InL). As consequence of multilingual community member is the existence of language choices. The aim of the paper is to describe language situation relating to diglossic situations. This research is synchronic descriptive with survey method. The data was collected by using questionnaires to figure out respondents' choice of language. There are 65 respondents from different range of age, backgrounds and professions. According to the findings, there are at least two diglossic situation in involving three languages, i,e. InL-BM and BM-NgD. .The other kind of diglossic situation involving other languages than NgD might exist. However, those two diglossic situations evidently are not stable and even more leak. InL as high language is often spoken in informal field that belongs to low language domain. Occasionally, BM can exactly brerak through instability and vice versa. This becomes evidence for diglossia leakage. In another diglossic situation, BM which is considered to be high language for NgD speakers can also be spoken occasionally in low language domain.


Keywords


masyarakat multibahasa; digrosia; situasi diglosik; pilihan bahasa; multilingual community; diglossia; disglossic situation; language choice

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v42i1.81

Article Metrics

Abstract view : 130 times
PDF - 111 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by