REPRESENTAS! DAN IDEOLOGI KOTA YOGYAKARTA DALAM NOVEL YOGYAKARTA KARYA DAMIEN DEMATRA

S.E. Peni Adji

Abstract


Catatan awal pengarang dalam novel Yogyakarta mengungkapkan tujuan dari proyek pembuatan novel. Tujuan itu berkaitan dengan representasi kota Yogyakarta yang dihadirkan melalui novel. Tulisan ini menkaji representasi dan ideologi novel Yogyakarta karya Damien Dematra. Teori representasi (Barker) dan ideologi (Storey dan Barthes) yang dipakai dalam kajian ini diterapkan menggunakan metode analisis isi. Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa novel Yogyakarta sangat kuat menghadirkan representasi Yogyakarta sebagai (1) kota yang pluralis dan nyaman, (2) kota yang maju dengan tetap mempertahankan nilai tradisional, dan (3) kota pendidikan. Representasi tersebut dilakukan dengan mengingkari beberapa makna denototatif dari yang direpresentasikan. Tujuan dari representasi ini untuk mengukuhkan identitas, yang ujungnya demi pengukuhan ideologi kapitalisme dan legimitasi kekuasaan. Menurut Barthes pembacaan yang lebih seksama terhadap sebuah ideologi tidak akan mengurangi atau menambah kekuatan dari ideologi tersebut. Oleh karena itu, ideologi mengenai kapitalisme dan legitimasi kekuasaan dalam novel Yogyakarta tetaplah kuat. Dari segi pengoptimalan potensi bahasa (sastra) untuk menciptakan komunikasi yang baik, novel ini dipandang sebagai bentuk tuturan -- untuk menciptakan citra (representasi, konotasi) positif mengenai Yogyakarta -- dari pengarang (yang didukung penguasa) kepada masyarakat.

First record of author in novel Yogyakarta disclose the aim of the novel making project. It dealt with the representation of Yogyakarta city. This paper reviewed the representation and ideology of Yogyakarta, a novel by Damien Dematra. Representation theory (Barker) and ideology theory (Storey and Barthes) were used and be applied with content analysis method. This review concluded that novel Yogyakarta really presented Yogyakarta as (1) plural and comfortable place, (2) advanced city which preserved traditional values and (3) education city. The representation was performed by ignoring some denotative meanings. The goal of the representation was to establish identity for establishing capitalism ideology for further and legitimate authority. According to Barthes, the sophisticated reading about ideology would never reduce or add the strength of the ideology, Therefore, the ideology of capitalism and power legitimating in novel Yogyakarta was still strong. To optimize language potency (literature) in order to create good communication, this novel was overviewed as a narration to create positive image (representation, connotation) about Yogyakarta from author (in support by the ruler) to society.


Keywords


representasi; ideologi; identitas; makna denotatif; makna konotatif; representation; ideology; identity; denotative meaning; connotative meaning

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v39i2.35

Article Metrics

Abstract view : 145 times
PDF - 66 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by