KECENDERUNGAN POLA KALIMAT DALAM TUTURAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN: STUDI KASUS PADA TUTURAN DUA KARYAWAN JAWA POS SURABAYA

Angkita Wasito Kirana

Abstract


Artikel ini mengkaji pola kalimat pada ujaran generasi muda Surabaya, sebuah kota dengan bahasa Jawa Ngoko sebagai media komunikasi sehari-hari. Teori Topicality Hierarchy dan Language Transitivity digunakan untuk menganalisis pola kalimat dalam tuturan partisipan karena ketiadaan penggunaan Krama. Data merupakan percakapan seorang laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai karyawan Jawa Pos Surabaya ketika bercakap-cakap saat makan siang. Data diambil menggunakan perekam suara. Temuan yang ada menunjukkan bahwa partisipan laki-laki cenderung menitikberatkan fokus tuturan pada hal yang bukan manusia karena fokus tuturan lebih ditekankan pada kegiatan dan keterangan. Namun sebaliknya, partisipan perempuan lebih menekankan kepada manusia karena tuturannya menekankan pada agent atau pelaku kegiatan. Selain itu, lebih banyak ditemukan kalimat definite dalam tuturan partisipan perempuan daripada partisipan laki-laki. Kajian ini juga menemukan bahwa tuturan partisipan perempuan lebih transitif daripada tuturan partisipan laki-laki. Meskipun demikian, karena ada kemungkinan bahwa pada masyarakat Jawa perempuan masih merupakan pihak yang lebih pasif dibandingkan dengan laki-laki, dibandingkan dengan tuturan perempuan, tuturan pihak laki-laki menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap objek kalimat berlawanan dengan jumlah agent yang digunakannya dalam tuturannya.

Keywords


bahasa Jawa, gender, dialek Surabaya, topicality hierarchy, transitivity

Full Text:

PDF

References


Aijón Oliva, A. Miguel., and María José Serrano. 2016. A matter of style: Gender and subject variation in Spanish. Gender and Language, 10(2):240-269

Brenner, S. A. 1995. Why Women Rule the Roost: Rethinking Javanese Ideologies of Gender and Self-Control. In A. Ong, & M. G. Peletz, Bewitching Women, Pious Men: Gender and Body Politics in Southeast Asia (pp. 19-50). Los Angeles: University of California Press.

DeLancey, S. 1981. An Interpretation of Split Ergativity and Related Patterns. Language, 57(3): 626–57

Duranti, A. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

Friedan, B. 1977. The Feminine Mystique. New York: Dell Publishing Co., Inc.

Hopper, P, and Thompson, SA. 1980. Transivitity in Grammar and Discourse. Language, 56: 251–99.

Kramer, C. 1975. Women's speech: Separate but unequal? In B. Thome & N. Henley (eds.), Language and sex: Difference and dominance. Rowley, Mass.: Newbury House. 43-56.

Kuntjara, E. 2001. Gender in Javanese Indonesian. In A. D. Houwer, Gender Across Languages: The linguistic representation (pp. 199-228). Amsterdam: John Benjamins Publishing Co.

Labov, W. 1968. The social stratification of English in New York city. Center for Applied Linguistics.

Lakoff, R. 1975. Language and Women's Place. New York: Harper and Row.Givón, T. 1976. Topic, Pronoun, and Grammatical Agreement. In C. N. Li (ed.), Subject and Topic (pp. 149–88). New York: Academic Press

Smith-Hefner, N. J. 1988. Women and politeness: The Javanese example. Language in Society, 17(04), 535-554.

Sumadi, Sumadi. 2010. Tipe Kalimat Inversi Dalam Bahasa Jawa Ngoko. Widyaparwa 38, no. 2: 127-134.

Tatsumi, T. 2013. Inversion in Sayula Popoluca. 言語研究 (Gengo Kenkyu), 144, 83-101.

Wedhawati. 1986. Klausa Relatif Bahasa

Jawa. Widyaparwa 28: 28-50.

Woolard, A. Kathryn. 2008. Why dat now?: Linguistic‐anthropological contributions to the explanation of sociolinguistic icons and change 1. Journal of Sociolinguistics, 12(4), 432-452.




DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v48i1.310

Article Metrics

Abstract view : 32 times
PDF - 5 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats

Indexed by